TESTIMONI RELAWAN

Ghina –Bidan-Tegal

 

Kelas Inspirasi Grobogan Luar Biasa

 

Kelas Inspirasi Grobogan adalah Kelas Inspirasiku yang ke 4. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengajar  yang paling berkesan selama di kelas.

Pertama saat saya mengajar kelas 6 A, baru saja saya menyapa mereka, mereka langsung tercenggang melihat saya, saya bingung ada apa dengan diriku sehingga mereka menatapku seperti itu, lama kemudian mereka bisik-bisik ”Suara bu guru besar sekali”. Saya membatin (oh ternyata mereka heran dengan suaraku yang besar, gede seperti suara Laki-laki). Akhirnya saya memecah keributan anak-anak dengan menyapa mereka dengan manis, merekapun luluh dan mau mendengarkan saya berbicara dan menjelaskan pengalaman saya menjadi Bidan. Dan Kalian tau??? Tak ada satupun dari mereka yang tidak melihatku berbicara, hehehehe, entah mereka suka dengan penjelasanku apa mereka masih heran dengan suraku yang tergolong besar ini. Tapi semua itu membuat saya semakin bersemangat mengajar ke kelas berikutnya, karena saya berfikir mereka mau mendengarkan saya berbicara sampai selesai tanpa rebut.

Kedua saat saya mengajar kelas 2, seperti biasa saya menjelaskan ke anaak-ana dengan seru dan semangat. Tiba di sesi terakhir saya bertanya kepada anak-anak, “jadi kalian nanti besar mau jadi apa?”.

Anak cewe menjawab : “saya ingin menjadi guru bu”.

Saya : “bagus sekali adek”.

Anak cowo menyusul : “ibu kalau saya mau menjadi  Bidan seperti ibu, boleh kan bu?”.

Saya menjawab : “wah adek, yang jadi Bidan itu khusus anak perempuan yah, tapi adek bisa menjadi dokter atau perawat kok, sama-sama bisa membantu orang sakit”.

Saya senang sekali karena mereka benar-benar mendengarkan saya, sampai mereka termotivasi menjadi Bidan, tapi sayang saya lupa dari awal tidak menjelaskan kalau Bidan hanya untuk anak perempuan.

Sekian cerita pengalaman saya di Kelas Inspirasi Grobogan yang paling berkesan. Maju selalu anak-anak bangsa Indonesia.

 

Gineung – HR Administration-Jakarta

Ki Hajar Dewantara Mungkin Sumringah Melihat Kita

 

“Tidak hanya untuk dirayakan, pendidikan nasional juga harus terus diperjuangkan”.

Kelas Inspirasi itu semacam zat adiktif yang dicerna oleh tubuh, bikin nagih. Kalau gak diturutin bikin resah. Sekolah ke 7 yang saya datangi melalui Kelas Inspirasi. Kali pertamanya saya gak roaming sama bahasa daerahnya hehe. Segala logat seperti “iyo ik“, “opo re?”, “yo ngono tho” buat saya kilas balik jaman SD saya dulu. Gak ada yang gak bikin jatuh hati sama Kelas Inspirasi Grobogan.

(Berswafoto bersama siswa kelas 6B. Gak maksud ke-korea-korea-an sih, cuma minjem simbol “love”nya aja hehe. Kata mereka “Kak angil ik, ngene bener gak kak?”. Udah dibenerin jarinya, pas foto jadinya kayak gini wkwk)

Sepekan lalu saya bersama kelompok 3 mengajar di SDN 1 Getasrejo. Sekolahnya di pinggir jalan raya yang sedang dalam perbaikan. Dengan bermodal hak prerogatif (saya yang bikin jadwal, jadi saya bebas milih kelas mana aja yang mau saya ajar. Duh pisss! Maafin kak :p) saya mendapatkan 5 kelas dari total 7 kelas yang ada. Alhamdulillah berjalan menyenangkan, saya mau kasih reward “spiderman whuuuuus” buat adik-adik SDN 1 Getasrejo yang sangat bisa diajak kerja sama.

(Maafin jari kelingkingku yang mengurangi keindahan foto ini wkwk. Name tag crown ini dibuat direwangi menek wit pelem udan-udan. Yang menek bukan aku sih, tapi fasilnya :p)

Dimulai dengan saya yang memperkenalkan diri sebagai orang yang tugasnya menghitung kehadiran teman-teman, simulasi agent dan pelanggan yang mengeluh tentang listrik padam, menyampaikan nilai-nilai apa saja yang harus dilakukan untuk meraih cita-cita, dan demi menghindari mereka bete di kelas saya, saya sisipkan permainan tebak siapa aku. Bebeberapa clue saya berikan seperti: 1 orang, laki-laki, mantan presiden RI, insinyur, bisa buat pesawat. Jawaban beragam mereka lontarkan, dimulai dari Jokowi, Ahok sampai akhirnya nemu jabawan yang bener yaitu B.J Habibie. Apapun jawaban kamu dek, kamu bisa menjadi seperti mereka. Siapapun kamu, apapun sukumu, agamamu, keturunan manapun kamu, kamu punya hak yang sama untuk bercita-cita. Jadi, jangan pernah takut untuk bercita-cita.

Disela-sela materi mereka sempet nanya, “kak kuwi disyuting mlebu tv ndi kak? Aku pengen ndelok awak ku mlebu tv“. Dek, kalian pasti akan masuk tv, kelak kalian dewasa sebagai orang yang bermanfaat bagi masyarakat luas J

Dan pada akhirnya, lewat kegiatan ini saya membayangkan KI Hajar Dewantara sumringah melihat kita. Melihat kita yang masih optimis dan turut ambil bagian untuk menunaikan tujuan negara yang tertuang pada pembukaan UUD ’45 alinea ke empat.

 

Ain- Penulis

“Adek – adek, mau main di luar sama Kakak?” Tanyaku di kelas VB
“Mau kak…. ” jawab mereka serempak.

Kami langsung saja menuju keluar kelas. Saya mengajak mereka untuk duduk di halaman sekolah, tepat di depan kelas mereka ada pohon yg cukup rindang. Sekolah ini memang kurang dalam Sarpras,  namun sekolahnya terawat bersih  juga asri.

“Oh iya, maaf kakak tadi lupa untuk meminta kalian membawa alat tulis menulis. Mau kan kalian kembali ke kelas untuk mengambil peralatan?” Tanyaku tersenyum menatap mereka. Karena saya benar – benar lupa tidak memberi instruksi tadi.
Mereka tidak menjawab tapi mereka langsung berlari ke dalam kelas untum mengambil peralatan menulis.
Saat mereka berkumpul, saya meminta mereka untuk menulis nama, nama orangtua, kelas dan Sekolah. Sesudah itu saya meminta mereka untuk menulis cita – cita mereka dan alasan kenapa mereka memilih cita – cita itu.
Satu persatu berpencar, ada yg tetap duduk menulis di depan saya, ada yg pindah ke dekat warung jajan sekolah dan tempat lain sekitar sana.
“Kak, kenapa nama Bapak sama Ibu harus ditulis?” Celetukan itu berasal dari arah kanan saya. Saya menoleh dan menjawab “karena Bapak dan Ibu yg sangat berjasa pada kita”. Semuanya mengangguk. Saya yakin mereka semua setuju dengan kata – kata saya. Satu persatu mulai berani menyuarakan isi pikiran mereka.
Bertanya dan memberi pernyataan tentang banyak hal. Akhirnya sy bertanya ” siapa disini yg sudah selesai menulis? Bisa maju ke dekat kakak, nanti kakak bacakan tulisannya”. Mereka saling pandang, saya tahu mereka merasa malu. Tapi saya ingin mengajak mereka unt berani menunjukkan karya mereka. Saya ingin memancing mereka dengan cerita tentang cita – cita saya saat kecil dulu.
Tapi ternyata ada yg mengacungkan tangan, bersedia tulisannya dibaca.


“Saya kak” katanya sambil mengacungkan tangan.
” Wah… Pinter. Mana dek bukunya.” Minta saya sambil melihat ke arah nametag pemberian kami tadi. DUHA begitu nama yg tertera disana. Nama yg Indah, pasti orang tuanya faham makna Shalat Duha, batin saya.Saya mulai membacakan tulisan Duha yg bercita – cita menjadi Dokter.

“Nama saya Duha, saya ingin menjadi seorang Dokter. Karena, saya ingin membantu orang yang sakit. Mengobati mereka. Juga ingin merawat orang tua saya kalau sakit. Orang tua saya tidak perlu ke Dokter kalau sakit. Karena saya sendiri yang akan mengobati. Saya ingin menjadi Dokter karena saya ingin membahagiakan Orang Tua saya. Dengan Restu dan Do’a Orang Tua, saya akan sukses “.

Kurang lebih seperti itu tulisannya. Ah, jujur saja sy lupa tidak memfoto tulisan anak itu. Karena saya cukup kaget dengan kalimat dalam tulisan itu. Anak sekecil ini sudah faham makna do’a restu orang tua, sudah amat mengerti bahwa orang tua adalah hal terpenting dalam hidup. Bahkan Allah tidak Ridho jika Orang Tua belum Ridho. Saya merasa kalah, benar2 kalah dari seorang anak kecil ini. Rasanya saya amat malu. Teringat Ibu yg ada di rumah.
Inspirasi, Ilmu dan Kesadaran itu kadang hadir dari seseorang yang tidak terduga jg tempat dan waktu yg tidak kita sangka.
Jika sekecil ini saja sudah mempunyai pemahaman hidup yang indah, kelak jika sudah besar, kau akan menjadi orang hebat dan membanggakan Dek. Saya yakin itu. Anak – anak di desa seperti ini selalu saja mempunyai pemahaman  hidup yang lebih baik daripada yg lain. Kelak, Bangsa ini akan Merdeka dan berdiri tegak di tangan mereka.