Cerita Terpilih Sindrom Post KIG oleh kak Ain

Posted on

Ain- Penulis

“Adek – adek, mau main di luar sama Kakak?” Tanyaku di kelas VB
“Mau kak…. ” jawab mereka serempak.

Kami langsung saja menuju keluar kelas. Saya mengajak mereka untuk duduk di halaman sekolah, tepat di depan kelas mereka ada pohon yg cukup rindang. Sekolah ini memang kurang dalam Sarpras,  namun sekolahnya terawat bersih  juga asri.

“Oh iya, maaf kakak tadi lupa untuk meminta kalian membawa alat tulis menulis. Mau kan kalian kembali ke kelas untuk mengambil peralatan?” Tanyaku tersenyum menatap mereka. Karena saya benar – benar lupa tidak memberi instruksi tadi.
Mereka tidak menjawab tapi mereka langsung berlari ke dalam kelas untum mengambil peralatan menulis.
Saat mereka berkumpul, saya meminta mereka untuk menulis nama, nama orangtua, kelas dan Sekolah. Sesudah itu saya meminta mereka untuk menulis cita – cita mereka dan alasan kenapa mereka memilih cita – cita itu.
Satu persatu berpencar, ada yg tetap duduk menulis di depan saya, ada yg pindah ke dekat warung jajan sekolah dan tempat lain sekitar sana.
“Kak, kenapa nama Bapak sama Ibu harus ditulis?” Celetukan itu berasal dari arah kanan saya. Saya menoleh dan menjawab “karena Bapak dan Ibu yg sangat berjasa pada kita”. Semuanya mengangguk. Saya yakin mereka semua setuju dengan kata – kata saya. Satu persatu mulai berani menyuarakan isi pikiran mereka.
Bertanya dan memberi pernyataan tentang banyak hal. Akhirnya sy bertanya ” siapa disini yg sudah selesai menulis? Bisa maju ke dekat kakak, nanti kakak bacakan tulisannya”. Mereka saling pandang, saya tahu mereka merasa malu. Tapi saya ingin mengajak mereka unt berani menunjukkan karya mereka. Saya ingin memancing mereka dengan cerita tentang cita – cita saya saat kecil dulu.
Tapi ternyata ada yg mengacungkan tangan, bersedia tulisannya dibaca.


“Saya kak” katanya sambil mengacungkan tangan.
” Wah… Pinter. Mana dek bukunya.” Minta saya sambil melihat ke arah nametag pemberian kami tadi. DUHA begitu nama yg tertera disana. Nama yg Indah, pasti orang tuanya faham makna Shalat Duha, batin saya.

Saya mulai membacakan tulisan Duha yg bercita – cita menjadi Dokter.
“Nama saya Duha, saya ingin menjadi seorang Dokter. Karena, saya ingin membantu orang yang sakit. Mengobati mereka. Juga ingin merawat orang tua saya kalau sakit. Orang tua saya tidak perlu ke Dokter kalau sakit. Karena saya sendiri yang akan mengobati. Saya ingin menjadi Dokter karena saya ingin membahagiakan Orang Tua saya. Dengan Restu dan Do’a Orang Tua, saya akan sukses “.

Kurang lebih seperti itu tulisannya. Ah, jujur saja sy lupa tidak memfoto tulisan anak itu. Karena saya cukup kaget dengan kalimat dalam tulisan itu. Anak sekecil ini sudah faham makna do’a restu orang tua, sudah amat mengerti bahwa orang tua adalah hal terpenting dalam hidup. Bahkan Allah tidak Ridho jika Orang Tua belum Ridho. Saya merasa kalah, benar2 kalah dari seorang anak kecil ini. Rasanya saya amat malu. Teringat Ibu yg ada di rumah.
Inspirasi, Ilmu dan Kesadaran itu kadang hadir dari seseorang yang tidak terduga jg tempat dan waktu yg tidak kita sangka.
Jika sekecil ini saja sudah mempunyai pemahaman hidup yang indah, kelak jika sudah besar, kau akan menjadi orang hebat dan membanggakan Dek. Saya yakin itu. Anak Рanak di desa seperti ini selalu saja mempunyai pemahaman  hidup yang lebih baik daripada yg lain. Kelak, Bangsa ini akan Merdeka dan berdiri tegak di tangan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *